Tuesday, April 24, 2007

Perkenalkan, namaku Jiwa!

Lepas semua masalah, saat ini aku bagaikan musafir yang sedang terpuruk di tengah padang pasir yang tandus. Hanya desiran angin gurun beserta debu-debu yang bersedia menemaniku selalu, dalam suka, dalam duka dan luka. Sepuluh langkahku laksana seribu langkah. Dahaga, hanya itu yang dapat kurasakan. Musnah semua kepercayaanku akan penglihatanku sendiri, yang mulai kehilangan kemampuan untuk membedakan mana nyata dan mana asa. Aku buta. Desiran angin memekakkan telinga, membuatku tak mampu menangkap ucapanku sendiri. Aku tuli. Ucapan-ucapanku telah memotong-motong lidahku sendiri, membuatku takut untuk berucap. Aku bisu. Terkikis sudah keinginanku untuk dapat merasakan, manis, asin, asam, panas dan dingin, hanya getir yang kurasa. Aku telah terluka.
Ia telah pergi bersama angin gurun. Ia yang berjanji untuk melawan gurun ini bersama-sama telah berkhianat dengan menjadi sekutu abadi angin gurun. Seharusnya ia tahu, angin gurun akan selalu menjadi angin gurun. Kemanapun ia bertiup tunduknya akan selalu pada gurun. Seharusnya ia tahu, gurun tetaplah gurun. Walaupun seribu kali hujan turun, gurun tetaplah gurun. Seharusnya ia tahu, akulah yang akan tetap menemaninya walaupun suatu saat nanti angin dan gurun mengkhianatinya.
Ribuan angin gurun kulawan, ia tetap tak kutemukan. Aku kehilangan arah karenanya. Aku mulai lelah berusaha mencari ia yang terus mengikuti angin gurun. Aku mulai rapuh, menyerpih dan membinasa. Aku terbenam dalam pasir-pasirnya...dalam...
Lalu tiba-tiba desau angin mulai terdengar jelas. Bukitan gurun mulai nyata. Suaraku berangsur-angsur melantang. Kau telah menemukanku, membersihkan lukaku, dan berjanji tak kan pergi bersama angin gurun. Lekatkan aku dijiwamu selalu.




No comments: